GaleriTV Channel

Wednesday, 29 January 2014


Serupa ragam komoditas unggulan lainnya, teh bukanlah tanaman asli bumi Nusantara. Tanaman ini pertama kali masuk ke Indonesia sekitar tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang ahli botani sekaligus dokter bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Batavia.

Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champuys di Jakarta. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta) dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.

Pada tahun 1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa atau Culture Stelsel. Pada mulanya, bibit teh yang ditanam ini berasal dari Cina, namun setelah datang dan diperkenalkan bibit teh dari Assam, India pada tahun 1872, banyak perkebunan teh yang kemudian memakai bibit teh asal India ini karena ternyata lebih sesuai dengan kondisi tanah dan iklim Indonesia.

Teh varietas Assamica ini pertama kali ditanam oleh Rudolf Eduard Kerkhoven di kawasan Gambung, Bandung Selatan, Jawa Barat, dan berkembang tumbuh di hampir seluruh perkebunan teh di Nusantara, terutama di Pulau Jawa dan Sumatra. Upaya Kerkhoven tak sebatas menanam. Pengusaha perkebunan asal Belanda ini juga berperan memasarkan teh sebagai komoditas ekspor dan dijual di balai lelang Eropa. Sejak itu, Java Tea berkembang menjadi merek dagang dan produk yang banyak diminati oleh bangsa-bangsa di dunia. Kisah perjuangan Kerkhoven merintis perkebunan teh tersebut sempat dituangkan dalam sebuah buku berjudul Heren van de Thee karya pengarang Belanda, Hella S. Haasse.

Hamparan perkebunan teh dengan nuansa khas yang tak banyak berubah sejak zaman kolonial ini masih bisa dijumpai di berbagai wilayah, baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa.

Salah satunya adalah Perkebunan Teh Malabar di Priangan, Jawa Barat, perkebunan yang konon berhasil menjadi kontributor utama perkembangan kemajuan Kota Bandung pada zaman Hindia Belanda di awal abad ke-20. Tak sebatas hamparan pohon teh, kisah dan sejarah pun tersembunyi dalam hamparan rapi di perkebunan ini. Sebuah suasana yang tepat menggambarkan bagaimana Tanam Paksa, salah satu sistem paling menyengsarakan yang diterapkan pada rakyat Indonesia pada masa kolonial, terbingkai dalam hamparan luas perkebunan. Perkebunan Teh Malabar di lingkungan tersejuk di kawasan Bandung Selatan yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari pusat Kota Bandung ini, kini berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Menarik untuk dicatat, perkebunan teh terluas di dunia ada di Indonesia dan produksi teh dari perkebunan ini diakui sebagai teh dengan cita rasa terbaik di dunia. Perkebunan tersebut adalah Perkebunan Teh Kayu Aro, yang terletak di kaki Gunung Kerinci, Sungai Penuh, Provinsi Jambi.

Sejarah perkebunan Teh Kayu Aro tidak lepas dari sejarah perkembangan teh di Indonesia. Perkebunan ini pertama kali dibuka pada tahun 1925 oleh perusahaan Belanda NV HVA (Namblodse Venotschhaaf Handle Vereniging Amsterdam). Pohon teh pertama di perkebunan ini ditanam pada tahun 1929, dan pabrik teh pertama di Kayu Aro berdiri pada tahun 1932, dengan kapasitas produksi 90 ton pucuk teh per hari. Saat ini Perkebunan Teh Kayu Aro berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara VI.

Keistimewaan Perkebunan Teh Kayu Aro adalah tempat ini merupakan perkebunan teh terluas di dunia dalam satu hamparan, dengan luas mencapai 3020 hektar. Dari segi ketinggian, perkebunan yang terletak di ketinggian 1400-1700 meter dari permukaan laut ini merupakan perkebunan teh tertinggi kedua di dunia setelah perkebunan Darjeeling di India. Bedanya, hasil Perkebunan Teh Kayu Aro lebih unggul karena lokasinya yang berada di daerah tropis, sehingga produksinya relatif seragam dari waktu ke waktu serta panen pucuk teh dapat dilakukan sepanjang tahun.

Hasil produksi teh dari Perkebunan Teh Kayu Aro adalah teh hitam yang diakui sebagai teh hitam dengan cita rasa terbaik di dunia. Konon, jenis teh ini juga menjadi teh favorit keluarga kerajaan Belanda. Hal ini sangat mungkin dipengaruhi oleh cara pemetikan dan pengolahan daun teh yang belum berubah sedari zaman kolonial Belanda, dimana pemetikan teh hanya dilakukan menggunakan tangan, agar daun-daun teh muda tidak ikut tercabut dari dahan. Sedangkan pengolahan teh dilakukan dengan proses ortodoks, tanpa penambahan unsur-unsur lain seperti pewarna, perasa, atau bahan pengawet, sehingga cita rasa yang dihasilkan adalah cita rasa alami daun teh tersebut. Kurang lebih 80% produk perkebunan ini adalah untuk diekspor, sedangkan sisanya digunakan untuk kepentingan dalam negeri. Oleh karena itu, sangat sulit menemukan produk teh ini di pasaran domestik.

Kualitas produksi teh Indonesia memang telah diakui dunia. Kadar antioksidan yang tinggi di dalam teh asal Indonesia diakui sangat baik untuk kesehatan. Kadar antioksidan yang tinggi ini di satu sisi juga memberikan rasa sepet karena kandungan katekin, bagian rasa yang justru memberi tambahan aroma khas teh Nusantara. Kuatnya aroma inilah yang kemudian melahirkan campuran melati yang justru semakin memperkaya citarasa sehingga memiliki penggemarnya tersendiri.

Intinya, dari sisi kualitas teh dari Indonesia jauh memiliki kualitas yang lebih baik. Bahwa muncul anggapan di sebagian kalangan awam bahwa teh impor acapkali dianggap lebih baik, namun faktanya hanya sebatas pada kualitas kemasannya. Merek teh terkenal di Inggris pun mengimpor teh asli dari Indonesia yang ditera brand baru dan seringkali dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang berlipat.

Pada zaman Hindia Belanda, negeri ini sebetulnya pernah berjaya sebagai salah satu produsen teh terbesar di dunia. Sayang, produksi hasil bumi ini sekarang terus mengalami kemunduran. Dalam rapat tahunan anggota Dewan teh Indonesia dan Dialog Teh Nasional Tahun 2013 yang berlangsung di Jakarta bulan November 2013 lalu, terungkap bahwa dalam satu dekade terakhir ini luas perkebunan teh di Indonesia telah menyusut hingga 30.000 hektar dan hanya menyisakan sekitar 120.000 hektar saja. Ekspor teh pun terus menurun, sementara angka impor terus meroket.

Teh adalah potensi hasil bumi yang harus dipertahankan terjaga lestari. Diluar potensinya sebagai komoditas dagang, penyerapan tenaga kerja di perkebunan teh tak tertandingi oleh tanaman perkebunan lainnya. Pada aspek lingkungan hidup, keberadaan tanaman teh di pegunungan dengan sistem pengakarannya yang sangat kuat mampu menahan erosi dan mencegah munculnya banjir. Begitupun di sisi pariwisata, dimana hamparan perkebunan teh memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai agrowisata sekaligus obyek wisata edukatif.

Teks: Agus Yuniarso; Foto: Budi Prast, Albert

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Subscribe