GaleriTV Channel

Thursday, 30 January 2014

Tradisi minum teh sepertinya sudah sangat populer di berbagai belahan dunia. Tradisi ini rupanya telah menjadi kebudayaan besar dalam sejarah manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, minum teh dipercaya dapat meningkatkan suasana hati (mood booster). Bahkan, di berbagai belahan dunia, teh merupakan bagian dari sejarah, budaya, status sosial dan kepribadian bangsa. Dalam sejarah masuknya teh ke Indonesia, teh masuk melalui proses Culture Stelsel alias tanam paksa. Oleh karenanya, dari mulai perkebunan hingga tata niaga teh ini dikuasai oleh imperial Belanda melalui VOC.

Salah satu perkebunan teh yang ada di Indonesia, terletak di Wonosobo. Tak beda dengan kawasan Puncak, Bogor, di Wonosobo juga memiliki hamparan perkebunan teh yang dikelola dan dimiliki oleh PT Perkebunan Tambi sejak tahun 1957. Dulu, sekitar tahun 1865, perkebunan ini milik Belanda dengan nama Bagelen Tehe & Kina Maatschaappij yang berada di Netehrland. Di Indonesia peusahaan tersebut dikelola oleh NV John Peet yang berkantor di Jakarta. PT Perkebunan Tambi saat ini focus pada pengolahan teh hitam dan teh hijau.

“Pasar kami 75% ekspor dan 25% pasar dalam negeri. Ekspornya ke Amerika, Inggris, Irak, Jerman, Kanada, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, Rusia, Mesir, Chili, dan Pakistan, dalam bentuk uraian. Sedangkan teh hijau, kami baru mulai tahun 2013 lalu, tapi pasarnya sudah menunggu,” ujar Hj. Sri Sri Wahyuni, SE, MM, Direktur Utama PT Perkebunan Tambi. Ditambahkannya, untuk pasar dalam negeri, PT Perkebunan Tambi menjual teh dalam bentuk uraian dan kemasan dengan berbagai merek, seperti Petruk, Gunung, Cakil, dan Podang.
Adanya perkebunan teh di Wonosobo ini, tentu sangat bermanfaat. Tak hanya sebagai usaha yang padat karya, yang dapat membantu devisa negara dan pendapatan daerah yang besar. Tetapi, juga bermanfaat untuk mengurangi lahan-lahan kritis, sekaligus bermanfaat untuk ketahanan air untuk daerah-daerah lain di luar Wonosobo.

Selain itu, dengan adanya perkebunan ini, Wonosobo jadi memiliki daya tarik dengan adanya wisata agro. Keindahan dan daya tarik alamnyalah yang menjadi andalan utama, di samping juga pengolahan teh di pabriknya. Wisata agro di sana diberi nama Wisata Agro Kebun Teh Tambi dan Kampoeng Teh Tanjungsari.

Di Wisata Agro Kebun Teh Tambi disediakan fasilitas pondok penginapan, gedung pertemuan, restorasi, juga jasa pengadaan outbond. Lalu, di Kampoeng Teh Tanjungsari, disediakan fasilitas pondok penginapan, gedung pertemuan, restorasi, jasa outbond, kolam renang, dan area bermain anak. Karena terletak di daerah pegunungan, tentu saja suasana asrinya pemandangan dan lingkungan membuat banyak wisatawan tak henti-hentinya berdatangan untuk sekadar berjalan jalan dan menikmati udara segar di sana, sembari melihat dan mengetahui bagaimana proses pembuatan teh mulai dari proses petik hingga teh siap saji.

Melihat potensi teh di Indonesia, maka wajar kiranya jika minum teh kemudian menjadi sebuah tradisi. Di Indonesia, teh bisa dibilang sebagai minuman favorit setelah air putih karena begitu mudahnya kita menjumpainya di setiap kesempatan. Selain menjadi minuman favorit, teh juga merupakan minuman pergaulan. Di Jogja dan Solo, di setiap sudut kita bisa menemukan warung yang menyajikan teh. Di beberapa daerah di Pulau Jawa, dikenal sebutan teh nasgitel singkatan dari panas, legi lan kentel.

Teh nasgitel sebenarnya memiliki falsafah hidup yang mengesankan. Ibarat kehidupan, selalu ada yang pahit, wangi, panas dan kental. Aneka ragam rasa kehidupan dari yang menyenangkan, menyulitkan, dan penuh perjuangan. Teh nasgitel biasa disajikan dengan gula batu yang diibaratkan sebagai bentuk dari kenikmatan hidup. Namun sebenarnya, tidak dari rasanya saja, tapi filosofi kebahagiaan selalu diperoleh melalui kerja keras dan tempaan waktu. Bila teh yang panas bertemu dengan gula batu yang mencair bersama sehingga menghasilkan rasa yang pas, itulah keseimbangan hidup. Hidup terlalu pahit tak akan menyenangkan, hidup yang terlalu manis juga kurang tantangan. Yang pas adalah yang berada di tengah-tengah itu semua.

Tradisi minum teh pun sudah dikenal sejak jaman dulu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai poros budaya dan tradisi, kebiasaan para bangsawan kraton memang selalu menjadi pioneer dan kiblat gaya hidup bagi masyarakat sekitarnya. Kraton mengenal gaya minum teh sebagai tradisi Patehan. Sebenarnya tradisi Patehan bukan merupakan tradisi minum teh selayaknya di negara asalnya Cina, Jepang, ataupun Korea. Lebih tepatnya, tradisi Patehan merupakan tradisi menyajikan unjukan (minuman, -red) kepada Sultan Hamengku Buwono di Kraton Yogyakarta.

“Biasanya, tradisi tersebut dilakukan di jam tertentu, yaitu jam 11.00 dan jam 16.00. Di saat itu, para abdi dalem melakukan iring-iringan yang membawa air putih, teh, dan kopi untuk disajikan kepada Sultan di Kraton Kilen, tempat dimana Sultan bertempat tinggal. Sebutan “Patehan” diambil dari nama salah satu bangsal di dalam Kraton Yogyakarta,” kata GKR Bendara.

Menurut keterangan GKR Bendara, tradisi Patehan itu tidak hanya satu versi saja. Ia mengatakan, tradisi Patehan yang dilaksanakan ketika pada acara Lebaran, Ngapem, dan Sungkeman itu berbeda dengan Patehan yang dilaksanakan pada hari-hari biasanya. “Pada acara-acara tertentu, tradisi Patehan dilakukan dengan ritual-ritual dan aturan khusus,” ujar GKR Bendara.

Selain itu, tata cara membuat teh untuk Sultan juga tidak boleh sembarang orang. “Ada abdi dalem yang dipercaya khusus untuk membuat teh. Memasaknya sendiri juga harus dilakukan didalam lingkungan Kraton, lebih tepatnya di bagian Keputren. Tempat penyajian teh antara Sultan, anak-anak, wayah (cucu, -red), para pejabat, dan abdi dalem juga tidak sama. Khusus untuk Ngarso Dalem, cangkir yang beliau gunakan merupakan cangkir yang sudah dipakai sejak HB VII,” paparnya.

Bentuk cangkir itu sendiri, kata GKR Bendara, memiliki ukuran yang kecil. “Cangkir yang digunakan oleh Sultan memiliki ukuran yang kecil. Jadi ketika memakainya, sekali minum saja sudah habis. Selain ukuran yang tidak biasa, cangkir tesebut juga memiliki warna merah muda. Cangkir-cangkir itu sendiri juga memiliki corak warna bermacam-macam. Ada yang berwarna merah muda bercorak emas, perak, atau warna yang lainnya. Corak warna-warna tersebut merupakan penanda tingkat jabatan orang-orang di dalam Kraton Yogyakarta,” terang GKR Bendara.

Jika biasanya dalam melakukan suatu ritual pihak Kraton dan mayoritas masyarakat Jawa mempunyai ritual khusus ataupun nyenyuwun (meminta,-red) agar diberikan kelancaran atas segala sesuatunya, namun tidak demikian dengan tradisi penyajian minuman di dalam Kraton. “Tidak ada ritual khusus yang dilakukan oleh para abdi dalem ketika membuat sampai menyajikan minuman. Mungkin hanya ada tata cara saja. Syarat yang utama hanya minuman tersebut, harus dimasak di dalam Kraton dan di bagian Keputren. Untuk teh, seperti kebiasaan masyarakat Jawa lainnya, minuman tersebut akan disajikan ketika panas, memiliki rasa manis, dan berkarakter kental. Tradisi patehan kini pun dapat dinikmati siapa saja, karena di Royal Ambarrukmo Hotel pun para tamu dapat menikmati kesempurnaan tradisi minum teh ala kraton,” katanya.

Sementara itu, teh pun tak melulu disajikan dengan cara dan bentuk yang biasa. Namun kini ada blooming tea yakni teh cantik yang terbuat dari berbagai macam bunga dan ketika diseduh menghasilkan bentuk yang cantik pula. Di Indonesia, belum banyak hotel berbintang yang menyediakan teh jenis ini. Namun kita bisa menemukan blooming tea ketika berkunjung ke Semarang. Menurut Yogi Heru Darmawan selaku Priority Plus Officer Hotel Ciputra Semarang, pihaknya sudah lebih dari lima tahun ini menawarkan blooming tea kepada para tamu.

“Blooming tea termasuk salah satu menu teh yang paling digemari tamu. Dinamakan blooming tea karena bentuknya yang seperti bunga mekar. Teknik penyajiannya yang dilakukan dengan cara dimasukakan ke dalam teko kaca khusus, kemudian setelah dituangkan air panas maka teh bunga ini perlahan mengembang menjadi bentuk yang tidak hanya menyenangkan mata namun juga membangkitkan selera di hati untuk mencicipinya,” papar Yogi.

Blooming tea juga disebut sebagai teh herbal karena diyakini memiliki berbagai khasiat. Ragam bentuknya yang beraneka jenis pun memiliki nama yang indah, diantaranya Love of The First Sight, Double Happiness, Jade Goddess of Mercy, Osmanthus Lily, Happy Family, Rising Sun, Umbrella of Cherbourg, Rainbow dan masih banyak lagi.

Selain blooming tea, masih banyak menu minuman menarik yang berbahan dasar the. Yogi mengatakan, dalam perkembangannya, the tidak hanya disajikan dengan cara biasa namun juga dikreasikan sedemikian rupa sehingga memiliki variasi dari segi rasa. Seperti Iced Green Tea, Hot Ginger Tea, Pandanus Ginger Tea, Herb Spiced Tea, Blueberry Tea Cooler dan masih banyak lagi.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Subscribe