GaleriTV Channel

Saturday, 1 February 2014


Ada sesuatu yang menarik ketika melihat buku-buku di zaman Nederlands- Indie atau Hindia Belanda, terutama dalam buku-buku terbitan J.B.Wolters, Groningen, Batavia yang dicetak antara tahun 1920 hingga tahun 194-an. Buku-buku yang dibuat pihak penerbit untuk anak-anak sekolah rakyat dalam beberapa edisi, baik itu anak Pribumi ataupun anak Belanda. Buku-buku tersebut ada yang bahasa Belanda, bahasa Melayu, bahasa Jawa dengan huruf Jawa, dan bahasa Belanda untuk anak keturunan Tionghoa.

Meski sebenarnya, ilustrasi-ilustrasi yang dibuat untuk memberi gambaran tentang cerita atau kehidupan sehari-hari kala itu. Namun, ilustrasi tersebut sangat membantu anak-anak dalam belajar membaca dan memahami apa yang dimuat dalam buku tersebut. Ada beberapa ilustrator terkenal saat itu yang aktif membuat ilustrasi untuk buku-buku pelajaran anak-anak, antara lain: De Bruin W.K., J. Wolters Van Blom, Suzon Beynon, Sierk Schroder Carl, F. Bemmel, L.C. Bouman, Tilly Dalton, dan Cornelis Jetses.

Nama yang terakhir ini, sepertinya mampu menerjemahkan suasana dan alam Nederlands Indie waktu itu ke dalam gambar-gambar ilustrasinya. Cornelis Jetses berhasil menghadirkan suasana pedesaan, perkotaan, maupun dalam rumah tangga, sepertinya dia hadir di sana dan memindahkan objek secara detail ke dalam selembar kertas. Di samping itu, dia secara tepat dapat menggambarkan karakter masing-masing tokoh yang digambarkannya sungguh luar biasa.

Atmosfer dan suasana yang digambarkan oleh C. Jetses, saat ini sudah tidak dapat kita jumpai lagi. Zaman sudah berubah menjadi hiruk- pikuk sekarang ini. Ada ratusan karya C. Jetses yang dimuat dalam berbagai buku pelajaran sekolah, termasuk poster-poster. Itu pun sebenarnya masih sedikit, ada banyak lagi karya-karyanya sebelum dia bergabung dengan J.B. Wolters, sebab dia mengerjakan juga ilustrasi untuk buku-buku pelajaran untuk sekolah di Belanda.

Mungkin karena keterbatasan dana maka buku-buku untuk Nederlands Indie dicetak hitam putih. Lain halnya untuk anak-anak di negara Belanda, buku-buku karya C.Jetses dicetak berwarna. Sepertinya, ide itulah yang membuat karya-karya ilustrasi C. Jetses yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, menjadi berwarna, sehingga dapat memperkaya khasanah ilustrasi tentang zaman Hindia Belanda dahulu. Pameran Ilustrasi Insulinde itu bertajuk “Djalan ke Barat: Jawa di Mata C. Jetses”.

Kurator Pameran, Hermanu mengatakan Cornelis Jetses sepertinya mampu menerjemahkan suasana dan alam Nederlands Indie waktu itu ke dalam gambar-gambar ilustrasinya. C. Jetses berhasil menghadirkan suasana pedesaan, perkotaan, maupun dalam rumah tangga. “Dia (C.Jetses,-red) seperti hadir disana dan memindahkan objek secara detail ke dalam selembar kertas. Di samping itu, dia secara tepat dapat menggambarkan karakter masing-masing tokoh yang digambarkannya,”.

Untuk mendukung pameran buku yang terbilang langka tersebut, beberapa perupa yang sudah cukup punya nama juga bersedia memberi warna karya-karya C. Jetses yang awalnya berupa karya hitam-putih. Mereka antara lain Ong Hary Wahyu, Agung Pekik, Felix S Wanto, dan Aliem Bakhtiar.

Dengan perpaduan teknik ilustrasi lama yang masih manual digabung dengan dunia ilustrasi modern yang sudah menggunakan teknik digital, kemungkinan besar karya yang dihasilkan akan berbeda, mungkin dari warna yang dihasilkan, tidak mencapai nuansa klasik seperti karya cat air C. Jetses, namun setidaknya kita bisa lebih menghidupkan lagi karya-karya C. Jetses tentang alam Indonesia lama yang mooie (manis), permai, dan teduh atau di zaman dahulu lebih dikenal dengan istilah insulinde, yaitu tanah air yang elok dan manis.

Sumber: Kabare Magazine (Teks: Wahyu Indro S.)

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Subscribe