GaleriTV Channel

Sunday, 15 December 2013

Dalam catatan sejarah, runtuhnya kekuasaan Kerajaan Majapahit ditandai dengan istilah simbolik “Sirna Ilang Kertaning Bumi” atau “musnah dan hilangnya keagungan sebuah negeri” yang bermakna angka tahun 1400 Saka atau 1487 M, tahun awal “lenyapnya” kekuasaan Majapahit di wilayah Nusantara.

Peristiwa surutnya salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara ini menandai beralihnya peradaban dalam riwayat dan sejarah Nusantara, dari periode Hindu-Buddha memasuki periode Islam. Menguatnya kekuasaan Kesultanan Demak yang mulai berkembang pada masa yang sama, sering dianggap sebagai titik awal perkembangan dominasi peradaban dan penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa.

Meski bukanlah kerajaan Islam yang pertama, Kesultanan Demak tumbuh sebagai awal kekuasaan dan kekuatan Islam di tanah Jawa yang membawa pengaruh di seluruh penjuru Nusantara. Di awal abad ke-16, Demak telah menjelma menjadi kerajaan kuat tanpa adanya pesaing yang mampu menandingi upayanya untuk memperluas kekuasaan dengan menundukan sejumlah kawasan Nusantara, baik di wilayah pesisir maupun pedalaman.

Selain dengan keberadaan Kesultanan Demak, hadirnya periode Islam dalam sejarah Nusantara juga ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, termasuk berubahnya kerajaan-kerajaan lama menjadi kerajaan Islam, yang terjadi dalam kurun waktu yang relatif sama.

Untuk mengukuhkan legitimasi sebagai pemegang tampuk kekuasaan atas negara sekaligus pemimpin agama di wilayah kekuasaannya, kerajaan-kerajaan itu menetapkan sistem pemerintahan yang meski tetap bersifat monarki absolut, namun dianggap lebih “Islami”, yakni dalam bentuk Kesultanan, sesuai dengan sebutan dan gelar Sultan yang mulai banyak dipergunakan, sebuah sebutan yang jarang dipakai atau tidak banyak didokumentasikan pada periode sejarah Nusantara sebelumnya.

“Sultan” memang bukan gelar asli Nusantara. Gelar yang berasal dari bahasa dan tradisi Persia ini adalah sebutan bagi seorang raja sekaligus pemimpin Muslim yang memiliki wilayah kedaulatan tertentu yang disebut Kesultanan (Sultanate). Berbeda dengan gelar “Khalifah” yang dianggap sebagai pemimpin untuk keseluruhan umat Islam di penjuru dunia, gelar Sultan lazim dipakai sebagai sebutan bagi pemimpin kaum Muslimin pada bangsa atau wilayah kekuasaan tertentu saja, atau sebagai raja bawahan dari seorang Khalifah di suatu wilayah tertentu.

Meski demikian, pernah terjadi dalam sejarah Islam dimana Dinasti Kesultanan Turki berhasil mengalahkan dan mengambil alih kekuasaan Kekhalifahan Abassiyah, sehingga Kesultanan Turki Utsmaniyyah, yang dikenal juga sebagai Kekaisaran Turki Ottoman (1299-1923) dianggap sebagai kekhalifahan terakhir dalam sejarah Islam.Di wilayah Nusantara, gelar Sultan pertama kali disandang oleh Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir yang wafat pada tahun 1211, yang ditengarai berdasarkan temuan makamnya di daerah Lam Reh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Di Jawa, meski gelar Sultan telah sering dipergunakan dalam penyebutan nama para raja di Kesultanan Demak (1475-1548), namun Pangeran Ratu, raja keempat di Kesultanan Banten (1524-1813), dianggap sebagai raja pertama yang menyematkan sebutan Sultan pada tahun 1638, sekaligus meresmikan gelarnya sebagai Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir. Selain di Demak dan Banten, gelar Sultan kemudian juga dipergunakan oleh kerajaan Islam lainnya di tanah Jawa, seperti Kesultanan Cirebon (1552-1677), Kesultanan Pajang (1568-1618), dan Kesultanan Mataram (1586-1680).

Selain gelar Sultan, tradisi masyarakat Jawa juga mengenal gelar “Sunan” yang menjadi sebutan bagi seseorang yang diagungkan dan dihormati karena kedudukan dan jasa-jasanyanya di masyarakat. Gelar ini berasal dari kata “susuhunan” yang bermakna “sesembahan” dan lazim diberikan kepada para mubaligh yang menyebarluaskan agama Islam di tanah Jawa sekitar abad 15-16 Masehi, khususnya bagi para wali yang kemudian dikenal sebagi Walisanga.

Sri Susuhunan Amangkurat Agung atau Sunan Amangkurat I, raja Kesultanan Mataram yang bertahta tahun 1646-1677, adalah raja Jawa pertama yang menyematkan sebutan Sunan pada gelarnya. Konon, gelar ini dipilihnya untuk tampil dengan jatidiri yang berbeda sekaligus melepaskan diri dari bayang-bayang kebesaran ayahandanya, Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram yang bertahta pada tahun 1613-1645.

Tradisi penyematan gelar Sunan berlanjut pasca runtuhnya Kesultanan Mataram di tahun 1680, sejak era Kasunanan Kartasura (1680-1742) dan berlanjut di Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sejak tahun 1745 hingga hari ini. Sementara penyematan gelar Sultan selanjutnya dilestarikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bertahta di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Hal ini terjadi pasca peristiwa Palihan Nagari di tahun 1755, peristiwa yang memisahkan kedaulatan wilayah Yogyakarta dari kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Gelar Sultan dan bentuk pemerintahan Kesultanan berkembang sebagai ciri kerajaan Islam di Nusantara sekaligus menandai dimulainya periode Islam dalam sejarah Indonesia, meski kerajaan Islam di Nusantara tidak selalu berbetuk Kesultanan atau dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Sultan. Di antaranya karena sejumlah kerajaan lama yang belakang berubah menjadi kerajaan Islam tanpa merubah identitas pemerintahannya, atau digunakannya identitas yang tetap “Islami” namun dengan menggunakan istilah yang berbeda.

Selain di tanah Jawa, sejarah Indonesia juga mencatat berdiri dan berkembang kerajaan-kerajaan Islam penting di berbagai penjuru Nusantara dengan segenap kebesarannya. Di Pulau Sumatra pernah berdiri Kesultanan Samudra Pasai di Aceh (1267-1521), Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat (1500-1825), Kerajaan Inderapura di pesisir Sumatera Barat, (1347-1792), Kesultanan Aceh Darussalam (1496-1903), Kesultanan Siak Sri Inderapura di pesisir timur Sumatra wilayah Riau (1723-1945), serta sejumlah kerajaan kecil di bawah masing-masing kekuasaannya.

Di Kalimantan, di antaranya berdiri Kesultanan Pasir (1516-1906), Kesultanan Banjar (1520-1905), Kesultanan Sambas (1671-1950), Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (1300-1960), Kesultanan Berau (1377-1830), Kesultanan Kadriah Pontianak (1771-1950), Kerajaan Tidung (1551-1916), Kesultanan Bulungan (1731-1964). Di Sulawesi terdapat Kesultanan Buton (1332-1911), Kesultanan Gowa (abad ke-16 hinga 17), Kesultanan Bone (abad 17) dan Kerajaan Banggai (abad 16). Sementara di wilayah Maluku, di antaranya berdiri Kesultanan Tidore (1110-1947), Kesultanan Ternate (sejak 1257), Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682) dan Kesultanan Bacan.

Teks: Agus Yuniarso; Foto: Albert, Budi Prast

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Subscribe