GaleriTV Channel

Friday, 21 February 2014

Sebagai salah satu kawasan multi-etnik terbesar di dunia, Nusantara sejak awal dikenal sebagai surga keanekaragaman. Tak kurang dari 300 kelompok etnik dengan lebih dari 1.300 suku bangsa, lengkap dengan ragam bahasa dan adat istiadat yang dimilikinya, hidup penuh harmoni, berdampingan dengan damai, mewakili lintasan zaman yang begitu panjang.

Kekayaan ini tentu melahirkan aneka rupa gaya dan warna dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Istimewanya, kehadiran unsur budaya asing bukannya melenyapkan warisan asli para leluhur, namun justru berbaur harmonis dan semakin memperkaya keanekaragaman yang dimiliki. Serapan langgam dan corak dari berbagai pengaruh budaya besar dunia, sejak Hindu-Buddha, Islam, China hingga Eropa, mewarnai kekayaan budaya dan adat istiadat khas berbagai suku bangsa seantero Nusantara.

Karakteristiknya menjadi begitu beragam, termasuk dalam hal bertempat tinggal. Rumah tradisional Nusantara memiliki aneka bentuk dan rupa berikut fisolofi yang terkandung di dalamnya. Tak sebatas pada latar belakang dan pertimbangan lahiriyah, para leluhur masyarakat Nusantara memang memandang dan menghayati tempat tinggalnya dengan pertimbangan dan pendekatan batiniah. Rumah sebagai tempat tinggal yang sempurna, tak hanya dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan keselamatan dan kenyamanan pengguna dan penghuninya, namun juga melekatkan harapan akan suasana bahagia, damai, tenteram, hingga hadirnya aura keberuntungan dan keseimbangan.

Khazanah spiritual yang dimilikinya diterapkan rinci dalam tiap tatanan, rancangan, serta ornamen dan ragam hias simbolik yang melengkapinya. Semuanya, secara keseluruhan merefleksikan kedalaman filosofi dan kekayaan budaya setempat. Selain itu, khazanah spiritual juga diwujudkan dalam tahapan, prosesi serta ritual adat sebelum, selama, hingga sesudah pembangunan sebuah rumah yang didasarkan atas berbagai pertimbangan dan perhitungan yang matang.

Keragaman budaya Nusantara melahirkan kebhinnekaan pandangan, filosofi, dan gaya hidup masyarakatnya yang penuh warna. Pun dalam hal bertempat tinggal, setiap suku bangsa memiliki cara dan ciri tersendiri, bentuk dan gaya tersendiri, sehingga ketika semua rumah-rumah tradisional dari seluruh penjuru Nusantara ditata berdampingan satu dengan yang lainnya, yang hadir adalah bentangan aneka bentuk dan rupa yang begitu indah dan menakjubkan. Suasana ini bisa disaksikan sejak tahun 1975 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sebuah kawasan taman wisata budaya di sisi timur Kota Jakarta. Dan sejak tahun 2011, kawasan miniatur budaya Nusantara yang digagas oleh Ibu Tien Soeharto ini telah diusulkan Pemerintah Republik Indonesia ke UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk pendidikan dan kebudayaan, sebagai salah satu intangible cultural heritage.

Sayangnya, kini tak terlalu mudah untuk melihat rumah tradisional Nusantara berdiri di tempat asalnya sendiri. Tampaknya bukan karena masyarakat tak peduli untuk melestarikan keberadaannya. Selain alasan adat tertentu, tuntutan modernisasi dan pragmatisme akibat perkembangan zaman memang tak memudahkan rumah tradisional untuk tetap berdiri kokoh. Terlebih ketika lahan tak lagi tersedia dan mudah untuk dimiliki.

Gairah untuk mencintai dan melestarikan unsur tradisional, meski semakin marak berkembang sebagai tren gaya bertempat tinggal di era modern ini, terpaksa hanya dapat diwujudkan dalam keterbatasan. Langgam dan corak tradisional masih bisa dilekatkan di sana-sini. Jikapun bukan di sisi rupa dan bentuk, nuansa tradisi masih dapat tetap dipertahankan di sisi fungsi dan filosofinya.

Melekatkan kembali unsur tradisional di setiap sudut rumah paling tidak bisa dipandang sebagai upaya pelestarian di tengah keterbatasan. Kebanggaan berbudaya dihadirkan dengan bauran kenyamanan modern yang dipadukan dengan balutan unsur artistik dari kekayaan ragam budaya Nusantara yang tiada tara.

Teks: Agus Yuniarso; Foto: Budi Prast, Albert

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Subscribe